NIAS– KATANIAS.COM

Benasokhi Zai alias Ama Seniman (41), harus meregang nyawa di tangan warganya sendiri. Dengan luka bacokan di beberapa bagian tubuhnya, Kepala Desa Tagaule Kecamatan Bawolato, Kabupaten Nias ini bersimbah darah di depan rumah warganya AL. Alasan ketiga warganya yang menghabisi nyawanya, karena emosi akibat suara sumbang yang dilontarkan korban. Tiga bilah parang pun berbicara, tanpa rasa kasihan.

Diungkapkan Kepala Kepolisian Resor Nias, AKBP Deni Kurniawan, pembunuhan bermodus suara sumbang ini terjadi pada Selasa 1/1/2019 sekira pukul 11 Wib. Dan diungkap oleh Kepala Polisi Sektor Bawolato, Iptu HM Sibarani, dalam waktu beberapa jam.

Diawali sekitar pukul 11 siang, BZ (41) pulang dari rumah adiknya SZ untuk menuju kediamannya. Saat melintasi depan rumah tersangka AL, ia mengeluarkan kalimat-kalimat sumbang yang ditunjukkan kepada AL serta menantang untuk berkelahi. Tidak terima kalimat yang dilontarkan korban, tersangka AL emosi sambil memasuki rumahnya dengan mengambil sebilah parang yang kemudian, bersama kedua anaknya melakukan penganiayaan terhadap Benasokhi Zai, beber Deni Kurniawan dalam Konferensi Pers di Markas Polres Nias, Rabu 2/1/2019, sore tadi.




“Seketika menghampiri korban yang masih berdiri di depan rumahnya dengan posisi memegang Hp dan mengarahkan kepadanya, AL langsung membacok lengan bawah tangan sebelah kiri korban sebanyak satu kali. Sambil menahan sakit, korban membalikan badannya dan melangkahkan kakinya diatas Dwiker plat. Dan saat itu, tersangka kembali membacok bagian punggung belakang korban tepatnya ditulang ekor sebanyak satu kali. ” Selanjutnya, korban berusaha melarikan diri sejauh lima meter. Namun, korban dihalau dari depan anak AL berinsial OL yang tiba- tiba keluar dari sisi sebelah kiri jalan, dan saat bertemu OL langsung membacok lengan atas sebelah kiri korban sehingga BZ jatuh ketanah,” ungkap Kapolres yang didampingi Waka Polres, Kompol Elizama Zalukhu dan PS.Subbag Humas Polres Nias, Bripka Restu Elman Gulo beserta KBo Satreskrim Polres Nias, Ipda Hondistan Manurung.

Bukan sampai disitu saja, setelah korban jatuh dengan posisi telengkup ditanah dan bersimbah darah, AL kembali mendekati korban dari sebelah kanan dan kembali membacok kepala korban sebanyak empat kali. Secara bersamaan juga, tersangka OL kembali membacok lengan atas tangan kiri korban. Sedangkan tersangka DL membacok punggung belakang korban.

“Karena masyarakat dan keluarga korban mendatangi TKP, ketiga pelaku bersama-sama melarikan diri kearah hutan. Namun sayang, AL yang telah berumur tua terpaksa berpisah dengan kedua anaknya disebabkan kurang cepat berlari. Dan sesampainya ditengah hutan, tersangka AL membersihkan parangnya serta melap pakaiannya yang terkena darah di Sungai Naai. “Tak lama sesudah itu, setelah dihimbau Polsek Bawolato tersangka AL akhirnya menyerahkan diri. Sedangkan dua tersangka lainnya ditangkap oleh personil Polisi,” terang Perwira Menengah dengan dua melati emas di pundaknya itu.

Untuk saat ini, kita sudah mengamankan beberapa barang bukti dari ketiga pelaku, yakni satu bilah parang berukuran 39 cm, milik tersangka AL, sebilah parang ukuran 63 cm milik DL, satu bilah parang ukuran 60 cm milik OL dan satu helai celana panjang warna hitam milik Adehugo, satu helai baju kaus berkerah merex Manslix warna hitam serta satu potong ikat pinggang bersama satu helai singlet warna abu-abu. “Ketiga tersangka sudah kita amankan. Dan bila terbukti, ketiganya dikenakan pasal 170 ayat (2) ke- 3e atau pasal 351 ayat (3) dari KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun Penjara” tegas Mantan Wakil Kapolres Pematang Siantar ini. #Niasti Zalukhu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here